Memotret Perilaku Demonstran

            Masyarakat kampus menjadi leader dari penciptaan demokrasi yang santun dan terencana. Namun demonstrasi yang lebih mengarah ke sarkastis, provokatif berakhir ricuh dan gaduh bukan cermin demonstrasi ala kampus. kritis sangat perlu untuk calon intelektual, namun destruktif dan tidak mengindahkan etika hal itu perlu dipertanyakan seberapa relevansinya pencapaian akademik dengan pembelajaran dan pengajaran moral. Apakah para mahasiswa hanya tergiring  pada satu sisi sebagai kaum intelek, pintar, cerdas namun kurang memiliki sopan santun dan unggah-ungguh.

Banyak demonstrasi di berbagai daerah berakhir rusuh. Imbasnya banyak masyarakat dirugikan. Sebab demonstrasi sejatinya memperjuangkan kepentingan masyarakat namun banyak disusupi aksi anarkis. Dari liputan Media keberingasan mahasiswa menjadi keprihatinan mendalam. Bagaimanakah cermin penerus masa depan bangsa ini, kalau demonstrasi yang tercipta banyak yang berakhir ricuh.

Namun tentu masih banyak aksi demonstrasi teatrikal dari mahasiswa  yang  patut diacungi jempol. Kreatifitas Mahasiswa dalam menohok penguasa dengan panggung-panggung demonstrasi memang patut diacungi jempol. Lalu jika dikaitkan dengan aksi – aksi dengan teriakan maling untuk Presiden dan wakil Presiden (Kasus Bank Century), demonstrasi yang membawa kerbau (badan kerbau ditulisi SiBuYa). Ini kasus rendahnya etika mahasiswa (demonstran) atau cerminan kecerdasan mahasiswa dalam mengusung simbol-simbol untuk menggambarkan kelambanan pemerintah dalam upaya menuntaskan masalah Century dan masalah bangsa lain. Lenguhan kerbau ditanggapi dengan keluhan Penguasa tertinggi republik ini. Reaksi yang mengundang pro dan kontra. Tohokan dari sisi psikologis mengarah ke Presiden yang mulai panik dan cemas akibat desakan masyarakat secara periodik atas ketidaksigapan pemeritah dalam menuntaskan berbagai permasalahan yang dibiarkan mengambang.

Perilaku demonstran dari era ke era rasanya sama, kalau presiden gerah dengan demonstrasi yang mencoreng citra yang selama ini dibangun, semakin menegasikan bahwa ada pergulatan pribadi antara presiden dengan dirinya sendiri. Untuk apa diangkat juru bicara Presiden kalau presidennya lebih senang menanggapi rumor diluar dan tampak emosional. Padahal angin kencang akan terus menerpa. Kalau semua ditanggapi, efektifitas pemerintahan akan dipertanyakan.

Kritikan terkadang pedas tapi bisa berarti bahwa kritikan itu adalah cerminan rasa cinta rakyat agar pemerintah introspeksi dan tidak perlu banyak mengeluh. Siapapun kerbau, sapi, ayam, tikus  sebagai simbol protes warga, menjadi bahan renungan berharga untuk menjalankan roda pemerintahan yang efektif dan tegas. Untuk mahasiswa cobalah ke Perpustakaan cari literatur tentang etika berdemokrasi dan berdemonstrasi, buat barisan demonstrasi santun dan menarik, tidak berkarakter preman.

Perilaku kolektif dapat menyebabkan suatu hal yang positif ataupun hal negatif. Suatu perubahan yang radikal dalam bidang ekonomi, politik, sosial, keamanaan, dan pendidikan tidak dapat terjadi tanpa adanya tindakan kolektif dari masyarakat yang menuntut untuk dilakukan perubahan dalam bidang-bidang tersebut. Tetapi tindakan kolektif yang biasa dilakukan oleh masyarakat dalam menyampaikan aspirasi tersebut melalui demonstrasi. Tetapi tidak semua demonstrasi yang dilakukan berjalan damai, apabila terdapat provokator dalam demonstrasi tersebut dapat mengakibatkan tindakan anarkisme.

Dalam melakukan penelitian masalah perilaku kolektif ini, dapat dilakukan dengan cara ikut dalam demonstasi tersebut dan melakukan perekaman melaui video. Tidak mungkin peneliti melakukan wwancara atau menyebar kuesioner ketika demonstrasi itu terjadi, lebih-lebih ketika sudah berubah menjadi anarkisme. Peneliti juga dapat mencari data-data tentang perilaku anarkisme demonstrasi dari tahun ke tahun untuk mengetahui perkembangan tindakan kolektif yang anarkis tersebut.

Referensi: http://sosbud.kompasiana.com/